LAPORAN
RESMI
PRAKTEK
UJI BAHAN
“UJI
MAGNETIK (MAGNETIC PARTICLE)”

Oleh
:
Kelompok
3
1. Choirul
Anam (33211301008)
2. Riyaldi
Kurniawan (33211301012)
3. Riris
Puji Lestari (33211301014)
4. Angga
Suryanto (33211301030)
PROGRAM
STUDI TEKNIK MESIN ALAT BERAT
POLITEKNIK
NEGERI MADURA
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri-industri permesinan sangat membutuhkan logam yang berkualitas
untuk pembuatan alat-alat penunjang yang di butuhkan oleh manusia. Hampir dari
semua hal ciptaan manusia di dominasi oleh logam, mulai dari mobil, sepeda,
sepeda motor, jembatan dan lain sebagainya. Tentu saja logam yang di gunakan
bukanlah satu jenis logam saja melainkan dari banyak jenis logam. Selain
pemilhan jenis logam yang di gunakan, produsen-produsen pengguna logam juga
harus memikirkan bagaimana kualitas dari logam tersebut, apakah logam itu akan
mampu menahan beban yang akan diberikan. Oleh karena itu sebuah logam pasti
melalui proses Quality Control (QC)
atau uji kelayakan sebelum di pasarkan.
Dalam pengujian sebuah logam kita harus memahami metode-motode yang di
gunakan, salah satunya dengan cara Non destructive test ( pengujian tak merusak
) yang didalamnya terdapat metode Magnetic
particle inspection. Pengujian ini akan mengetahui cacat atau tidaknya
sebuah logam. Logam akan di uji dengan menggunakan tiga metode dari metode Magnetic
particle yaitu metode Dry particle, Wet
particle, dan Wet Fluorescent.
Dengan
menggunakan metode ini, cacat permukaan (surface)
dan bawah permukaan (subsurface)
suatu komponen dari bahan ferromagnetic dapat diketahui. Prinsipnya adalah
dengan memagnetisasi bahan yang akan diuji. Adanya cacat yang tegak lurus arah
medan magnet akan menyebabkan kebocoran medan magnet. Kebocoran medan magnet
ini mengindikasikan adanya cacat pada material. Cara yang digunakan untuk
mendeteksi adanya kebocoran medan magnet adalah dengan menaburkan partikel
magnetic dipermukaan. Partikel-partikel tersebut akan berkumpul pada daerah
kebocoran medan magnet. Kelemahan metode ini hanya bisa diterapkan untuk
material ferromagnetik. Selain itu, medan magnet yang dibangkitkan harus tegak
lurus atau memotong daerah retak serta diperlukan demagnetisasi di akhir
inspeksi.
1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini antara
lain :
1.
Untuk mendeteksi atau menemukan surface
dan sub surface discontinuate dengan cara memagnetisasi bahan yang diuji dan
memberikan medium pada material ferromagnetik.
2.
Mahasiswa dapat memahami penerapan uji
magnetic particle.
BAB
II
DASAR
TEORI
2.1
Pengertian
Magnetic
Particle Test (MT) merupakan salah satu pengujian
tidak merusak Atau Non-Destructive Test (NDT) yang relatif mudah,
efisien, dan ekonomis. Pengujian menggunakan prinsip medan magnet untuk
mendeteksi ada tidaknya kerusakan atau cacat pada material.Medan magnet
tersebut timbul dari adanya arus listrik yang mengaliri specimen uji (elektromagnet).
Pada Magnetic Particle Test terdapat beberapa peralatan antara lain
yaitu Yoke, Prods, Coil Shot, Central Conductor, dan Head
Shot. Berikut ini adalah prinsip kerja dari yoke yang terdapat pada Gambar
2.1.

Gambar 2.1 Prinsip Kerja Yoke
Prinsip kerja
dari Magnetic Particle Test ( MT ) adalah dengan memagnetisasi benda yang di
inspeksi yaitu dengan cara mengalirkan arus listrik dalam bahan yangg di
inspeksi serta menaburkan serbuk ferromagnetic pada benda yang diuji. Ketika
terdapat cacat peda benda uji maka arah medan magnet akan berbelok sehingga
terjadi kebocoran dalam flux magnetic. Bocoran flux magnetic akan menarik
butir-butir ferromagnetic yang telah ditaburkan di permukaan sehingga lokasi
cacat dapat di tunjukan.

Gambar
2.2 Arah medan magnet terpotong oleh retakan
2.1 Jenis-Jenis Magnet
A.
Magnet Permanen
Merupakan
bahan-bahan logam tertentu yang jika di magnetisasi maka bahan logam tersebut
akan mampu mempertahankan sifat magnetnya dalam jangka waktu yang lama (
permanen).
Secara
umum magnet permanent terbagi atas 4 jenis, yaitu:
1. Ceramic
or Ferrite
Jenis magnet ini dapat ditemukan
dimana saja khususnya dalam bentuk aksesoris rumah tangga, seperti magnet
aksesoris kulkas, mainan anak-anak, white board, jam dinding,dan lain-lain.
Magnet ini kekuatannya relatif kecil dan kemampuan terapinya sangat lemah dan
tidak dianjurkan untuk digunakan dalam terapi magnet. Harganya murah dan
warnanya hitam. magnet ini adalah magnet paling rendah tingkatannya.
2. Alnico
Jenis magnet ini dapat ditemukan di
dalam alat-alat motor (kipas angin, speaker, mesin motor), juga sering dijumpai
dalam perkakas rumah tangga, mainan anak-anak,dan lain-lain. Magnet ini juga
sering dijumpai dalam lab sekolahan bahkan juga dapat ditemukan pada sepatu
kuda yang berfungsi untuk meningkatkan daya lari kuda. Magnet ini kekuatannya
relatif sedang dan kemampuan terapinya sangat lemah dan tidak dianjurkan untuk
digunakan dalam terapi magnet. Harganya murah, magnet ini adalah magnet yang
masih termasuk kategori berenergi rendah.
3. Samarium
Cobalt (SmCo)
Jenis magnet ini dapat ditemukan di
dalam alat-alat elektronik seperti VCD, DVD, VCR Player, Handphone, dan banyak
lagi. Magnet ini kekuatannya relatif kuat dan kemampuan terapinya biasa saja,
jarang digunakan dalam terapi magnet pada umumnya. Harganya cukup mahal. magnet
ini adalah magnet yang termasuk kategori berenergi sedang.
4. Neodymium
Iron Boron (NdFeB or NIB)
Jenis magnet ini dikenal juga
dengan sebutan “King Of Magnet” yaitu raja dari segala magnet permanent yang
kita sebut tadi baik dari segi kekuatan magnet, daya terapi, harga, dan manfaat
dalam membantu memulihkan kesehatan tubuh manusia. Magnet ini sangat terkenal
diberbagai bidang kesehatan baik secara fisiotherapy dan pengobatan alternatif,
juga digunakan oleh rumah sakit-rumah sakit (seperti MRI), dan terapi magnet
dalam pakar fisiotherapy. Magnet ini sangat dianjurkan untuk kebutuhan terapi
karena memiliki energi yang sangat kuat.
B.
Elektromagnet
Merupakan
magnet yang terbuat dari bahan ferromagnetik yang jika diberikn arus listrik
maka bahan tersebut akanmenjadi magnet, tetapi jika pemberian arus listrik di
hentikan, maka sifat magnet pada bahan tersebut akan hilang. Elektromagnet
adalah prinsip pembangkitan magnet dengan menggunakan arus listrik. Aplikasi praktisnya
kita temukan pada motor listrik, speaker, relay, dsb. Sebatang kawat yang
diberikan listrik DC arahnya meninggalkan kita (tanda silang), maka
disekeliling kawat timbul garis gaya magnet melingkar, lihat gambar 1.2
Sedangkan gambar visual garis gaya magnet didapatkan dari serbuk besi yang
ditaburkan disekeliling kawat beraliran listrik, seperti gambar di bawah ini.
Gambar.2.2 Sifat elektromagnetik
Sumber . Internet
Magnetic
Testing (MT) / Magnetic Particle Inspection (MPI) digunakan untuk mendeteksi
cacat / diskontinuitas las-lasan yang berada di permukaan (suface) dan di bawah
permukaan (sub-surface) dengan kedalaman plus minus 2 mm. Cara kerjanya dengan
menggunakan alat yang disebut Yoke yang didalamnya berisi kumparan / coil yang
apabila dialiri arus listrik akan menghasilkan medan magnet yang fungsinya
nanti menarik keluar magnetic flux pada benda uji. Dimana flux line yang berada
pada cacat benda uji akan berpendar (stray) dan menjadi magnetic attractive
poles North dan South. Sehingga menimbulkan medan magnet dan keberadaan cacat
pun bisa terbaca dari sini. Dalam
beberapa kasus, MPI dapat meninggalkan sisa bidang yang kemudian mengganggu
perbaikan pengelasan. Ini dapat dihilangkan dengan perlahan menyeka permukaan
dengan AC yoke energi. MPI sering
digunakan untuk mencari keretakan pada sambungan las dan di daerah-daerah yang
diidentifikasi sebagai rentan terhadap lingkungan retak (misalnya korosi retak
tegang atau hidrogen induced cracking), kelelahan retak atau creep retak. Basah
neon MPI menemukan digunakan secara luas dalam mencari kerusakan lingkungan di
bagian dalam kapal
2.2 Metode
Magnetisasi
Magnetisasi adalah proses yang di
lakukan untuk membangkitkan medan
magnet pada benda yang akan di inspeksi. Ada
beberapa matode dalam
magnetisasi suatu benda kerja yaitu :
1. Magnetisasi
Longitudinal
Dihasilkan dari arus
listrik yang dialirkan dalam koil .
2. Magnetisasi
Yoke
Magnetisasi dengan
menggunakan yoke. Dengan cara ujung kaki yoke ditempelkan pada material yang
akan dimagnetisasi.
3. Magnetisasi
sirkular
Magnetik sirkular
terdiri dari :
a. Magnetik
tak langsung, arus listrik di alirkan ke konduktor sentral. Medan magnet
mengenai bahan dan benda yang dilingkupinya.
b. Magnetisasi
langsung, arus listrik di alirkan pada bahan yang akan dimagnetisasi.
c. Prod,
magnetisasi dengan cara material ferromagnetic dililiti dengan logam tembaga
kemudian dialiri arus listrik.
2.3 Demagnetisasi
Demagnetisasi adalah penghilangan
magnet sisa pada benda uji setelah dilakukan pengujian. Tujuan dilakukan
demagnetisasi adalah agar setelah pengujian
benda yang di uji tidak mengganggu atau mempengaruhi proses berikutnya.
Demagnetisasi dapat dilakukan menggunakan arus AC atau DC.
2.4 Metode
Pengaplikasian Partikel Ferromagnetik
1.
Metoda Kering
Partikel
magnetik yang digunakan berupa bubuk kering. Metoda ini digunakan pada
permukaan benda uji yang kasar. Suhu kerja yang baik yaitu pada suhu kamar 10°C
hingga 55°C, metoda ini juga masih dapat dilakukan pada suhu tinggi asalkan
benda uji masih berwujud padat. Metoda ini tidak cocok dilakukan pada suhu
dingin karena serbuk ferromagnetic akan lengket terkena embun. Warna partiker
ferromagnetik yang dipilih harus kontras terhadap benda uji. Bubuk diarahkan
pada lokasi yang diinginkan secara perlahan-lahan, sisa partikel yang berlebih dihilangkan
dengan air.
2.
Metoda Basah
Partikel
magnetik yang digunakan dalam bentuk suspensi. Metoda ini bisa digunakan pada
metoda kontinyu maupun residual. Metoda basah biasa digunakan pada permukaan
benda uji yang halus. Metoda ini cocok digunakan pada suhu dingin dan batas
maksimalnya adalah tidak boleh lebih dari batas akhir temperatur kamar, yaitu
55°C karena suspensi akan mengalami penguapan jika suhu terlalu panas.
2.6 Standar
Penerimaan Dari ASME Section V Article 7 :
Indikasi relevan
berikut ini tidak dapat diterima:
1. Setiap
retak atau indikasi linear.
2. Indikasi
bulatan dengan dimensi parutan dari 3/16 inci (5,0 mm)
3. Empat
atau lebih bulat indikasi dalam garis dipisahkan oleh 1/16 inci (2,0 mm) atau
kurang, tepi ke tepi.
4. Sepuluh
atau lebih bulat indikasi dalam 6 persegi di permukaan dengan dimensi utama
dari daerah ini tidak melebihi 6 in (150 mm) dengan daerah yang diambil di
lokasi yang paling menguntungkan relatif terhadap indikasi sedang dievaluasi.
BAB
III
METODE PENGUJIAN
METODE PENGUJIAN
3.1 Alat
1.
Sikat Kawat, berfungsi
untuk membersihkan atau menghilangkan karat pada benda uji sebelum dilakukan
pengujian.
Sikat Kawat, berfungsi
untuk membersihkan atau menghilangkan karat pada benda uji sebelum dilakukan
pengujian.
Gambar
3.1 Sikat Kawat
2.
Majun berfungsi untuk
mengelap benda uji yang telah diberi cleaner.
Majun berfungsi untuk
mengelap benda uji yang telah diberi cleaner.
Gambar
3.2 Majun
3.
Yoke berfungsi untuk membangkitkan
medan magnet pada benda uji yang akan di inspeksi.
Yoke berfungsi untuk membangkitkan
medan magnet pada benda uji yang akan di inspeksi.
Gambar
3.3 Yoke
4. Penggaris
berfungsi untuk mengukur hasil cacat yang telah dilakukan inspeksi dan mengukur
benda uji.

Gambar
3.4 Penggaris
5. Gause
Meter berfungsi sebagai pendeteksi kandungan magnet pada benda uji.

Gambar
3.5 Gause Meter
6.
Kabel
Roll berfungsi untuk menhubungkan Yoke dengan listrik.
Kabel
Roll berfungsi untuk menhubungkan Yoke dengan listrik.
Gambar
3.6 Kabel roll
7. Lampu
12 watt berfungsi sebagai penambah penerangan saat inspeksi benda uji.

Gambar
3.7 Lampu 18 watt
8. Light
Meter berfungsi sebagai pengukur cahaya lampu.

Gambar
3.7 Light Meter
9.
Jangka Sorong berfungsi
untuk mengukur dimensi benda uji.
Jangka Sorong berfungsi
untuk mengukur dimensi benda uji.
Gambar
3.8 Jangka Sorong

10. Pie
Field Indicator / Flow Shim Indicator
Gambar
3.9 Pie Field Indicator
11. Buma
Castrol / Flow Shim Indicator
12. Dead
Weight
3.2 Bahan
1.
Spesimen
A3
Spesimen
A3
Gambar
3.10 Spesimen A3
2.
Cleaner
Cleaner
Gambar
3.11 Cleaner/Remover
3. White
Contras Paint Magnfluk WCP-2

Gambar
3.12 WCP-2
4. Wet
Particle MPI Ink Magnafluk 7HF

Gambar
3.13 7HF
3.3 Langkah Percobaan
1. Membersihkan
spesimeen dari kotoran bekas las atau kotoran lainnya dengan cara di gerinda,
di sikat dan di bersihkan dengan cairan cleaner
2. Menyemprotkan
White Contras Paint ( WCP-2) pada specimen
3. Menyalakan
yoke dengan cara 3 detik menyalakan kemudian mematikan.
4. Menyemprotkan
cairan 7HF sambil menyalakan yoke sampai partikel magnetic mengumpul pada
bagian specimen yang cacat
5. Mematikan
yoke setelah selesai
6. Menyalakan
cahaya tambahan ( Lampu 12 watt ) sebesar 100 FC minimal
7. Mengukur
jarak lampu ke specimen
8. Melihat
cacat ( Inspeksi dan Evaluasi )
9. Menggambarkan
cacat pada lembar kerja
10. Setelah
selesai, mendemagnetisasi specimen
11. Membersihkan
specimen tahap akhir dengan cleaner
BAB
IV
ANALISA
DAN PEMBAHASAN
4.1
Analisa
dan Pembahasan
Berikut
adalah data hasil praktikum magnetic particle
yang terdapat pada tabel 4.1.
Tabel
4.1 Data Hasil Praktikum Magnetic Particle
|
MAGNETIC
PARTICLE TEST
|
||||||||||
|
Equipment
|
√ yoke ●prod ●coil ●SN:
|
|||||||||
|
Particle type
|
● dry
√ wet ●fluorescent ● color contrast
|
|||||||||
|
Method
|
√ continuous ● residual
|
|||||||||
|
Surface Condition
|
√ weld ● machine process ●
grind
|
|||||||||
|
Range
|
√ base metal
|
√ weld part
|
|
|
|
|||||
|
● edge preparation
|
● repair weld
|
|
|
|
||||||
|
● back chipping
|
|
|
|
|
||||||
|
|
||||||||||
|
No
|
Part/ Item
|
Size of defect
|
Result
|
Remark
|
||||||
|
Accepted
|
Reject
|
|||||||||
|
1
|
L1
|
25 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
|
2
|
L2
|
20 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
|
3
|
L3
|
35 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
|
4
|
L4
|
13 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
|
5
|
L5
|
5 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
|
6
|
L6
|
4 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
|
7
|
L7
|
10 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
|
8
|
L8
|
14 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
|
9
|
L9
|
5 mm
|
|
√
|
Repair
|
|||||
Pada percobaan magnetic particle spesimen yang
dignakan adalah Aswelded SA 36 (A3). Kami menggunakan lampu Philips 18 Watt
dengan intensitas cahaya sebesar 109 fc. Jarak lampu dengan benda kerja sebesar
180 mm.
Bardasarkan hasil percobaan, berikut adalah
discontinuate yang timbul pada benda uji yang terdapat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Line Discontinuate
Pada
percobaan ini ditemukan 9 indikasi berupa cacat linear pada permukaan spesimen
A3 yang ditunjukkan oleh gambar 4.2.

Gambar 4.2 Indikasi cacat linear
o
L1 dengan jenis cacat Linier dengan
panjang cacat 25 mm
o
L2 dengan jenis cacat Linier dengan panjang cacat 20 mm
o
L3 dengan jenis cacat Linier dengan
panjang cacat 35 mm
o
L4 dengan jenis cacat Linier dengan
panjang cacat 13 mm
o
L5 dengan jenis cacat Linier dengan
panjang cacat 5 mm
o
L6 dengan jenis cacat Linier dengan
panjang cacat 4 mm
o
L7 dengan jenis cacat Linier dengan
panjang cacat 10 mm
o
L8 dengan jenis cacat Linier dengan
panjang cacat 14 mm
o
L9 dengan jenis cacat Linier dengan
panjang cacat 5 mm
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari
hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Spesimen Aswelded
SA 36 (A3) tersebut tidak memenuhi
standar ASME V Artticle 7 atau bisa di katakan ditolak, karena telah memenuhi Indikasi
relevan yang tidak dapat diterima yaitu pada poin 1 yang melarang “Setiap retak
atau indikasi linear”.
5.2 Saran
1.
Pada saat melakukan praktikum magnetic
particle, mahasiswa sebaiknya menggunakan masker, sarung tangan karet dan kaca
mata jika diperlukan.
2.
Mahasiswa diharap berhati-hati dalam
menyemprotkan cairan.
3.
Mahasiswa harus memastikan alat yang
digunakan dalam keadaan baik dan siap untuk dipakai.
4.
Mahasiswa sebaiknya membersihkan
alat-alat yang telah dipakai.
Daftar Pustaka
·
Laily Ulfiyah, ST.,MT,[2014],Modul Praktek Uji Bahan, Jurusan Teknik
Mesin Alat Berat, POLTERA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar