UNDER
CARRIAGE & AWS
“SHOCK
ABSORBER”

Disusun
Oleh :
Nama :
Riris Puji Lestari
NRP :
33211301014
Prodi :
TMAB/4
PROGRAM
STUDI TEKNIK MESIN ALAT BERAT
POLITEKNIK
NEGERI MADURA
2014
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul ...............................................................................................................
1
Daftar
isi ...........................................................................................................................
2
A.
Pengertian Shock Absorber .......................................................................................
3
B.
Fungsi Shock Absorber .......................................................................................
3
C.
Konstruksi Shock Absorber .......................................................................................
4
D.
Tipe-Tipe Shock Absober .......................................................................................
6
E.
Cara Kerja Shock Absorber .......................................................................................
9
F.
Perhitungan Gaya Pegas Shock Absorber pada Sistem
Suspensi suatu Kendaraan ...... 11
G.
Cara Perawatan Shock Absorber .........................................................................
12
Daftar Pustaka .............................................................................................................
14
A. Pengertian
Shock Absorber
Shock absorber (shock breaker atau
peredam kejut) adalah sebuah alat atau komponen yang didesain untuk meredam
hentakan yang disebabkan oleh energi kinetik pada suatu kendaraan. Berikut ini
merupakan gambar shock absorber yang ditunjukkan oleh Gambar 1.

Gambar 1. Shock Absorber
Shock absorber merupakan suatu komponen yang
penting pada suatu kendaraan yaitu dalam sistem suspensi. Apabila dalam sistem
suspensi hanya terdapat pegas atau spring, maka kendaraan cenderung naik turun
secara tidak stabil saat menerima beban kejut dari permukaan jalan.
B. Fungsi
Shock Absorber
Fungsi
dasar dari shock absorber ada dua, yaitu :
1.
Ditinjau dari faktor kenyamanan : mengurangi
getaran dan gerakan dari body, engine, serta penumpang (Sprung Mass).
2.
Ditinjau dari faktor keselamatan :
menjaga getaran dari roda, velg, rem dan shock absorber itu sendiri pada
tingkat minimum (Unsprung
Mass).
Selain
itu, shock absorber berfungsi untuk meredam gaya osilasi (gerak naik turun)
dari pegas. Shock absorbers juga berfungsi untuk memperlambat dan mengurangi
besarnya getaran gerakan dengan mengubah energi kinetik dari gerakan suspensi
menjadi energi panas yang dapat dihamburkan melalui cairan hidrolik.
C. Konstruksi
Shock Absorber
Berikut
ini merupakan kontstruksi dari shock absorber beserta nama bagian-bagiannya
yang ditunjukkan oleh Gambar 2.

Gambar
2. Konstruksi dari shock absorber beserta nama bagian-bagiannya
Shock absorber memiliki
bagian-bagian sebagai berikut:
1.
Eye
Eye merupakan bagian
dari shock absorber yang berfungsi sebagai penahan atau dudukan antara shock
absorber dengan chassis kendaraan. Eye memiliki bentuk bulat yang bagian
dalamnya terdapat karet dan bushing untuk masuk kedalam baut pemegang shock.
2.
Spring
Spring biasa disebut pula
per atau pegas. Komponen ini mempunyai bentuk ulir melingkar yang berfungsi untuk
menahan beban kendaraan dan memberikan fungsi elastisitas pada suspensi, spring
juga berfungsi untuk menahan beban dan membantu proses rebound.
3.
Piston
Piston merupakan bagian
dari shock absorber yang berfungsi untuk mengatur kinerja sirkulasi fluida yang
ada didalam tabung sok (shock tube). Bagian piston yang ada di shock absorber
ini, terdiri dari beberapa bagian pula. Misalnya, ring piston dan valve yang
berfungsi untuk menahan kompresi tekanan di tabung (tube).
4.
Piston Rod
Piston rod merupakan bagian dari shock absorber
yang berfungsi sebagai jalur penopang
dan dudukan piston. Terutama dibagian ujung. Piston akan ditahan oleh mur yang
berada di bagian atas main shaft. Panjangnya piston rod (as) juga mempengaruhi
panjang langkah atau stroke. Semakin panjang as, maka stroke juga akan semakin
panjang. Begitu pula sebaliknya.
5.
Damper
Damper merupakan bagian
dari shock absorber yang berfungsi untuk meredam beban yang diterima ketika
terjadi proses rebound. Maka dari itu, hubungan antara damper dengan spring
sangat erat. Damper ini berfungsi untuk meredam gaya ke atas dari elastis
spring dan menambah fungsi spring, ketika terjadi proses rebound akan terdengar
bunyi keras akibat benturan part yang satu dengan part yang lainnya.
6.
Tabung (Tube)
Tabung (tube) merupakan
bagian dari shock absorber yang berfungsi sebagai bagian penampung oli atau
gas. Ketika shock absorber bekerja, maka oli atau gas akan mengisi bagian luar
tabung. Dalam perkembangannya, sekarang ini terbagi menjadi model mono tube dan
double tube. Model tabung double tube cenderung lebih kuat ketimbang model mono
tube. Biasanya model mono tube memiliki tabung dibagian atas. Sedangkan double
tube, umumnya berada dibagian bawah.
7.
Rebound Adjuster
Rebound Adjuster merupakan
bagian dari shock absorber yang berfungsi untuk menghambat atau melancarkan
sirkulasi oli. Semakin dihambat sirkulasi oli, maka rebound yang dihasilkan
lambat. Sebaliknya, jika dilancarkan, maka rebound semakin cepat.
8.
Yoke
Yoke disebut juga
dudukan sok bagian bawah. Fungsi dari yoke sama dengan fungsi dari eye. Yoke
merupakan bagian dari shock absorber yang berfungsi sebagai penahan atau dudukan
antara shock absorber dengan chassis kendaraan bagian bawah. Yoke memiliki bentuk
dudukan shock absorber bermodel U yang terdapat karet dan bushing untuk masuk
kedalam baut pemegang shock.
D. Tipe-tipe
Shock Absorber
Shock
absorber memiliki beberapa tipe berdasarkan pada penggolongan menurut cara
kerjanya, penggolongan menurut konstruksinya, dan penggolongan menurut medium
kerjanya.
·
Menurut cara kerjanya, shock absorber diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu:
1. Shock
absorber kerja tunggal (single action).
Pada shock absorber kerja tunggal,
efek peredaman hanya terjadi pada saat ekspansi. Sebaliknya, saat kompresi
tidak terjadi peredaman. Berikut ini gambar
shock absorber kerja tunggal yang ditunjukkan oleh Gambar 3.

Gambar 3.
Shock Absorber Kerja Tunggal (Single Action)
2.
Shock absorber kerja ganda (double action)
Pada shock absorber kerja ganda,
saat siklus ekspansi dan kompresi selalu terjadi peredaman. Berikut ini gambar shock absorber kerja ganda yang ditunjukkan
oleh Gambar 4.

Gambar 4.
Shock Absorber Kerja Ganda (Double Action)
·
Menurut konstruksinya, shock absorber diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu:
1.
Shock absorber tipe mono tube
Pada shock absorber tipe mono tube, di dalamnya
terdapat silinder tanpa reservoir. Berikut ini gambar shock absorber tipe mono
tube yang ditunjukkan oleh Gambar 5.

Gambar 5. Shock Absorber Tipe Mono
Tube
2.
Shock absorber tipe twin tube
Dalam shock absorber tipe twin tube terdapat pressure
dan outer chamber yang membatasi working chamber dan reservoir chamber. Berikut
ini gambar shock absorber tipe twin tube yang ditunjukkan oleh Gambar 6.

Gambar 6. Shock Absorber Tipe Twin
Tube
·
Menurut Medium Kerjanya, shock absorber diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu:
1.
Shock absorber tipe hydraulic
Pada shock absorber tipe hydraulic, fluida yang
digunakan untuk medium kerjanya adalah oli atau minyak shock absorber. Berikut
ini gambar shock absorber tipe hydraulic yang ditunjukkan oleh Gambar 7.

Gambar 7. Shock Absorber Tipe
Hydraulic
2.
Shock absorber tipe pneumatic
Pada shock absorber tipe pneumatic, fluida yang
digunakan untuk medium kerjanya adalah gas. Gas yang biasanya digunakan adalah
nitrogen. Berikut ini gambar shock absorber tipe pneumatic yang ditunjukkan
oleh Gambar 8.

Gambar
8. Shock Absorber Tipe Pneumatic
E. Cara
Kerja Shock Absorber
Shock
absorber bekerja dalam dua siklus, yaitu: siklus kompresi dan siklus ekstensi.
1.
Siklus kompresi (penekanan)
Saat shock
absorber ditekan karena gaya osilasi dari pegas suspensi, maka gerakan yang
terjadi adalah shock absorber mengalami pemendekan ukuran. Siklus kompresi
terjadi ketika piston bergerak ke bawah, menekan fluida hidrolik di dalam ruang
bawah piston. Dan minyak shock absorber yang berada dibawah piston akan naik
keruang atas piston melalui lubang yang ada pada piston. Sementara lubang kecil
(orifice) pada piston tertutup karena
katup menutup saluran orifice tersebut. Penutupan katub ini disebabkan karena
peletakan katup yang berupa membran (plat tipis) dipasangkan dibawah piston,
sehingga ketika minyak shock absorber berusaha naik ke atas maka katup membran
ini akan terdorong oleh shock absorber dan akibatnya menutup saluran orifice.
Jadi minyak shock absorber akan menuju ke atas melalui lubang yang besar pada
piston, sementara minyak tidak bisa keluar melalui saluran oriface pada piston.
Pada saat ini shock absorber tidak melakukan peredaman terhadap gaya osilasi
dari pegas suspensi, karena minyak dapat naik ke ruang di atas piston dengan
sangat mudah. Berikut ini merupakan gambar siklus kompresi yang ditunjukkan
oleh Gambar 9.

Gambar 9. Siklus Kompresi pada Shock Absorber
2.
Siklus ekspansi (memanjang)
Pada saat
memanjang piston di dalam tabung akan begerak dari bawah naik ke atas. Gerakan
naik piston ini membuat minyak shock absorber yang sudah berada diatas menjadi
tertekan. Minyak shock absorber ini akan mencari jalan keluar agar tidak
tertekan oleh piston terus. Maka minyak ini akan mendorong katup pada saluran
oriface untuk membuka dan minyak akan keluar atau turun ke bawah melalui
saluran oriface. Pada saat ini katup pada lubang besar di piston akan tertutup
karena letak katup ini yang berada di atas piston. Minyak shock absorber ini
akan menekan katup lubang besar, piston ke bawah dan mengaakibat katup ini
tertutup. Tapi letak katup saluran oriface membuka karena letaknya berada di
bawah piston, sehingga ketika minyak shock menekan ke bawah katup ini membuka.
Pada saat ini minyak shock absorber hanya dapat turun ke bawah melalui saluran
orifice yang kecil. Karena salurannya yang kecil, maka minyak shock absorber
tidak akan bisa cepat turun ke bawah alias terhambat. Di saat inilah shock
absorber melakukan peredaman terhadap gaya osilasi pegas suspensi. Tipikal
mobil atau truk ringan akan memiliki lebih banyak perlawanan selama siklus
ekstensi daripada siklus kompresi. Hal ini memungkinkan guncangan untuk
menyesuaikan diri dengan kondisi jalan dan untuk mengontrol semua gerakan yang
tidak diinginkan yang dapat terjadi dalam kendaraan yang bergerak. Berikut ini
merupakan gambar siklus ekspansi yang ditunjukkan oleh Gambar 10.

Gambar 10. Siklus Ekspansi pada Shock Absorber
F.
Perhitungan Gaya Pegas Shock Absorber pada Sistem
Suspensi suatu Kendaraan
Prinsip dasar sistem suspensi dalam suatu kendaraan adalah menggunakan gaya
pegas. Berikut ini adalah skema spring (pegas) diberi beban yang ditunjukkan oleh Gambar 11.

Gambar 11. Skema Spring (Pegas) yang
Diberi Beban
Pada saat spring (pegas) digantung secara vertikal dan salah satu ujungnya
digantungi bebandan ujung lainnya pada titik diam, maka hal ini akan
mengakibatkan beban pegas mengalami perubahan panjang. Perubahan panjang pegas
(
) dapat ditentukan dengan syarat
besar gaya grafitasi sama dengan gaya pegas. Untuk mencari konstanta shock
absorber menggunakan rumus sebagai berikut:
F = - k.
..........................................................................................
(persamaan 1)
k =
........................................................................................................
(persamaan 2)
k =
......................................................................................................
(persamaan 3)
Dimana:
F = Gaya (Newton/N)
k = Konstanta pegas (N/m)
M = Massa (kg)
G = Gaya grafitasi (m/s2)
Berikut ini adalah perhitungan untuk mencari nilai konstanta shock absorber
sesudah pembebanan dan contoh pembebanan pada shock absorber yang ditunjukkan
oleh Gambar 12.

Gambar 12. Pembebanan pada Shock
Absorber
Diketahui:
m (massa) = 56 kg
g (gaya
grafitasi) = 9,8 m/s2
X0 =
33cm + 21cm = 54cm
X1
= 33cm + 18cm = 51cm
Ditanya : k?
Jawab:
k = 
k = 
k = 
k = 
k = 182,9
N/cm
G. Cara Perawatan
Shock Absorber
Perawatan atau pemeliharaan shock absorber dilakukan secara berkala, pada
umumnya diperiksa 2 bulan sekali untuk mencegah terjadinya kerusakan. Kerusakan
shock absorber umumnya disebabkan oleh kebocoran oli. Hal ini bisa kita lihat
pada tabung shock absorbernya. Jika tabungnya selalu basah oleh rembesan oli,
maka shock absorbernya bisa dianggap bocor. Masalah tersebut dapat diatasi
dengan cara mengganti as shock dan menambah oli pada tabung shock absorber.
Cara perawatan atau pemeliharaan shock absorber secara sederhana adalah
sebagai berikut:
1.
Membersihkan bagian seal dan permukaan rod dari debu
dan kotoran secara teratur.
2.
Segera dibersihkan apabila shock absorber terkena air.
3.
Memeriksa dan mengganti apabila komponen sudah aus.
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar